Sunday, 29 June 2008

Mencari Cita-cita

Cita-cita itu pasti semua orang mempunyai cita-cita. Tapi di suatu kota di Jakarta ada seorang gadis kecil bernama Feby. Feby tidak tahu apa cita-citanya. Dia selalu bingung jika ditanya apa cita-citanya?. Ceritanya dimulai saat pelajaran bahasa indonesia. Kelas Feby mendapat tugas untuk membuat karangan mengenai cita-citanya dimasa depan. Akhirnya Feby berusaha berpikir tapi tak bisa, dia kemudian teringat dengan kue donat yang dijanjikan mamanya, akhirnya dia menulis “Aku mau jadi Kue donat kalau sudah besar,”.
“Anak-anak sekarang tugas kalian adalah menulis karangan, mengenai cita-cita kalian dimasa depan,” kata Bu Guru.
“Aduh aku enggak tau mau jadi apa kalau sudah besar?,” kata Feby bingung.
“Feby, kalau besar mau jadi apa?,” tanya Sarah teman sebangku Feby.
“Enggak tahu ya,” jawab Feby.
“Kalau aku mau jadi Guru,” ujar Sarah.
‘Sarah sudah tau mau jadi apa kalau aku, oh iya aku mau jadi kue donat saja,’ kata Feby dalam hati.
Tiga puluh menit kemudian......
“Nah anak-anak ayo kumpulkan kertasnya,” kata Bu Guru.
“Semoga saja benar,” kata Feby.
“Eh Feby. Kamu tulis cita-cita dengan benar dong,” kata Bu Guru.
“Kenapa memangnya Bu?” kata Feby.
“Masa sih kamu mau jadi kue donat,” kata Bu Guru.
“Kue Donat?!, hahahahahahahaha!!!” tawa seisi kelas.
“Sudah-sudah semuanya jangan tertawa, Feby lain kali jangan tulis yang enggak-enggak lagi ya,” kata Bu Guru.
“Iya bu, maaf,” kata Feby ingin menangis.
Saat pulang sekolah Feby berusaha tegar ketika di ejek-ejek oleh teman-teman sekelasnya. Karena tidak tahan Feby menangis dan berlari pulang kerumahnya. Mamanya kaget ketika melihat Feby menangis dan berlari kekamarnya. Mamanya akhirnya menanyakan kepada Feby apa masalahnya. Feby menangis di pelukan mamanya, Feby tak sanggup bercerita. Dengan sabar mamanya mendengarkan cerita anaknya.
“Hey kue donat, mau pulang ya?” ejek Rudy teman sekelas Feby.
“Nanti kalau sudah jadi donat kumakan ya kamu,” tambah Ari.
“Hentikan jangan mengejek Feby terus,” bentak Sarah.
“Hiks, hiks, hiks, hiks,” kata Feby menangis sambil berlari.
“Feby tunggu jangan lari,” kata Sarah.
Dirumah Feby........
“Hiks, hiks, hiks, hiks,” tangis Feby berlari masuk kamar.
“Lho Feby kenapa kok menangis?” ujar Ibunya.
Dikamar Feby.......
“Feby sayang, kenapa kok pulang-pulang langsung masuk kamar?” tanya mamanya.
“Aku kesal sama teman-teman dikelasku ma,” jawab Feby.
“Kenapa mereka menjahilimu, Feby?” kata mamanya.
“Waktu pelajaran bahasa indonesia, ada tugas mengarang tentang cita-cita. Aku tulis aku mau jadi kue donat,” ujar Feby terus menangis.
“Oh jadi kamu dikatai gara-gara kamu tulis kue donat,” kata mamanya.
“Iya ngeselin kan mereka,” kata Feby.
“Memang sih kalau dikatain pasti rasanya kesal sekali. Tapi mereka kan hanya bercanda, lagi pula mama juga pasti tertawa kalau jadi teman mu,” kata mamanya.
“Mama aku bingung mau jadi apa ma,” kata Feby.
“Sudah jangan dipikirkan lagi, tuh kue donat yang kamu minta ada di meja makan,” kata mamanya keluar kamar Feby.
“Aku enggak selera lagi makan donat,” kata Feby.
“Ya sudah, setidaknya jangan menangis lagi. Kamu kerjakan PR saja,” kata mamanya.
“Iya ma,” kata Feby berhenti menangis.
Sore hari pun tiba, Feby masih saja memikirkan masalahnya siang hari tadi. Lalu Sarah datang kerumah Feby untuk mengajaknya bermain di taman. Akhirnya Feby mau ia berpikir dengan bermain di taman dia bisa melupakan semua masalahnya. Ketika di taman ada keempat teman laki-laki Feby yang sekelas dengannya, ada Ari, Faisal, Rudy, dan Arif mereka mengejek-ngejek Feby lagi sehingga akhirnya Feby meninggalkan Sarah dan pulang dengan perasaan sedih.
“Aduh aku masih belum bisa melupakan masalah tadi siang,” kata Feby.
“Feby, ada Sarah datang nih,” kata mamanya.
“Suruh saja masuk ke kamar ku ma,” kata Feby.
“Hey Feby, masalah tadi siang jangan dipikirkan ya,” kata Sarah.
“Susah melupakan masalah itu Sarah,” kata Feby.
“Dari pada kamu sedih, mendingan kita ke taman aja,” ajak Sarah.
‘Iya juga ya, kalau ke taman perasaan sedihku bisa hilang,’ kata Feby dalam hatinya.
“Mau enggak Feby?” tanya Sarah.
“Iya deh, kita bawa donat buatan mamaku yuk,” jawab Feby.
“Iya deh sudah lama enggak makan donat buatan mama kamu,” kata Sarah.
Di Taman........
“Nyam donatnya enak banget,” kata Feby.
“Iya enak banget,” tambah Sarah.
“Wah donat kok makan donat,” ejek Ari.
“Iya betul-betul, masa sesama dimakan sih,” tambah Faisal.
“Sssst, kalian berisik sekali sih. Jangan mengatai Feby lagi,” kata Sarah kesal.
“Hiks, hiks, hiks, hiks, hiks, hiks, hiks, hiks, aku pulang duluan ya,” tangis Feby berlari kekamarnya.
“Ah Feby, lihat kan akibat perbuatan kalian,” kata Sarah.
Feby menangis terus menerus. Sampai sekolah pun dia tetap menangis tersedu-sedu. Ia sangat kesal ketika melihat Ari dan teman-temannya mengejek dia terus menerus. Akhirnya Feby mencoba satu-persatu kegiatan dicoba oleh Feby. Mulai dari bernyanyi, mengambar, menari, dan memeriksa hewan. Tapi hanya satu kegiatan yang dia tekuni dengan baik yaitu menari. Tetapi dia masih bingung apa cita-citanya.
“Huweeee!!!, aku harus mencari tau sendiri apa cita-citaku,” kata Feby.
Disekolah.......
“Apa?!. Petualangan mencari cita-cita?” kata Sarah kaget.
“Iya, nanti siang aku mau les vocal di Purwacaraka,” kata Feby.
“Dimulai dari menyanyi ya,” kata Sarah.
“Kalau aku ada bakat nyanyi aku pasti akan memilih menjadi penyanyi,” kata Feby.
‘Waktu kelas tiga, waktu kontes nyanyi kan suaranya kacau banget sampai-sampai vas bunga pecah,’ kata Sarah dalam hati.
“Kau dukung aku ya,” kata Feby.
“Pasti, pasti aku dukung kamu,” ujar Sarah.
Setelah les dipurwacaraka.......
“Feby, barus selesai les. Bagaimana hasilnya?” tanya Sarah.
“Aku gagal. Katanya suaraku serak dan jelek,” jawab Feby.
“Tenang saja kan masih banyak kegiatan lain,” kata Sarah mendukung Feby.
“Besok aku mau coba menari di sanggar milik tanteku,” kata Feby.
“Menari sih kayaknya kamu pandai,” ujar Sarah.
“Ia aku akan semangat menari,” kata Feby percaya diri.
‘Waktu kelas tiga juga aku pernah ikut eskul menari sama-sama dia, gerakan dia bagus sekali. Pasti dia bisa,’ kata Sarah dalam hati.
Besoknya........
“Wah Feby bagus ya, gerakan lengannya tepat semua,”puji tantenya.
“Hehehe maksih tante,” kata Feby.
“Feby, bagaimana sukses?” tanya Sarah.
“Iya. Tanteku bilang aku ada bakat,” jawab Feby senang.
“Ya sudah kau jadi penari saja,” kata Sarah.
“Enggak ah. Kayaknya aku masih punya banyak bakat deh,” kata Feby.
“Waduh aku terlambat nih,” kata Sarah.
“Terlambat kemana?” kata Feby.
“Les gambar, kamu mau ikut?” kata Sarah.
“Iya deh, dimana,” kata Feby.
“Dirumah om Hasan. Om ku, nanti kuberikan gratis deh,” kata Sarah.
“Wah betul nih, makasih ya,” kata Feby sangat berterima kasih.
“Kalau begitu pulang dan ambil buku gambar, rumah om ku ada di belakang super market,” kata Sarah.
“Oke deh, aku pulang dulu ya,” kata Feby.
“Kutunggu jangan sampai enggak datang lho,” kata Sarah.
Setelah selesai latihan mengambar........
“Feby, jangan putus asa ya. Mungkin kamu memang enggak ada bakat di bidang, melukis,” kata Sarah.
“Masa Om mu bilang gambarku kayak benang kusut,” kata Feby.
“Sudah-sudah jangan dipikirkan, kamu pulang saja ya,” kata Sarah.
Dirumah Feby.........
“Feby, habis dari mana?” tanya mamanya.
“Habis dari rumah omnya Sarah, belajar gambar,” jawab Feby.
“Feby, besok mama mau ke dokter hewan. Kucing kita si Choco sepertinya sakit,” kata mamanya.
“Aku boleh ikut enggak ma?” kata Feby.
“Boleh saja sih Feby. Asalkan kamu enggak rewel,” ujar mamanya.
“Oke deh,” kata Feby.
Besoknya Feby dan ibunya berangkat ke dokter hewan. Feby pun meminta dokter hewan tersebut mengajarinya yang belum dia lakukan.Feby putus asa dan bingung sekali. Kemudian Sarah datang kerumahnya dengan membawa brosur tempat latihan baru. Ketika diperiksa ternyata adalah tempat untuk mencari cita-cita. Ada permainan dokter gigi. Pemadam kebakaran, model, dan penata rias. Besoknya usai pulang sekolah mereka pun mencoba.
“Oh kucing ibu hanya sakit mata dan kedinginan karena hujan,” kata Dokter hewan.
“Hanya itu saja dok?” tanya mamanya Feby.
“Iya cukup tidur dan minum susu hangat lalu matanya digosok pakai kain kering,” jawab Dokter hewan.
“Feby mama mau ke luar sebentar, jaga choco ya,” kata mamanya.
“Iya ma,” kata Feby. ‘Aku minta diajari sama dokter ini saja mungkin aku bakat,’ kata Feby dalam hati.
“Adik suka kucing ya?” kata Dokter hewan.
“Yah begitulah. Dokter bisa ajari aku cara memeriksa hewan?” ujar Feby.
“Boleh saja kalau kamu mau,” kata Dokter.
“Serius bagaimana caranya?” kata Feby.
Setelah diajari.......
“Feby, tadi kamu bicara apa dengan dokter?” tanya mamanya.
“Feby minta diajari memeriksa hewan ma,” jawab Feby.
“Oh begitu, jadi kamu sudah tau caranya?,” kata mamanya.
“Belum ma,” kata Feby.
“Kok belum sih Feby, sudah diajari panjang lebar masih belum bisa,” kata mamanya.
“Habis rumit sekali, Feby tidak mengerti,” kata Feby.
“Memang anak kelas lima SD seperti kamu belum mengerti yang begitu. Nanti kalau sudah SMA atau perguruan tinggi baru bisa,” kata mamanya.
“Padahal Feby pingin sekali menemukan cita-cita Feby,” kata Feby.
“Sabar saja sayang. Nanti kamu juga tau apa cita-citamu,” kata mamanya.
“Iya juga ya,” kata Feby.
Sorenya.......
“Selamat Sore!!!” salam Sarah.
“Iya. Eh kamu Sarah ada apa?” sambut Feby.
“Ini aku dapat brosur ini di supermarket,” kata Sarah.
“Apaan nih?” kata Feby.
“Tempat latihan mencari cita-cita. Ada pemadam kebakaran, model, dokter gigi,penata rias, dan masih banyak lagi,” kata Sarah.
“Wah seru dong. Terus ngapain ngasih tau aku?” kata Feby.
“Ya ampun Feby. Siapa tau kamu bisa nemuin cita-cita kamu disana,” ujar Sarah.
“Iya juga ya, aku mungkin bisa nemuin cita-citaku,” kata Feby.
“Mau pergi enggak?” tanya Sarah.
“Besok aku enggak ada les, besok saja ya,” jawab Feby.
“Kalau begitu ketemuan didepan toko buku, jam satu ya,” kata Sarah.
“Iya,” kata Feby.


Akhirnya mereka berdua pergi bersama. Disana satu-persatu latihan Feby coba namun tak ada yang ia sukai. Ketika itu ada Faisal dan Ari yang sedang bermain pemadam kebakaran. Mereka kembali mengejek Feby. Tapi kini Feby tegar dia berusaha menahan tangisnya. Pulagnya Feby terus berpikir dan berpikir. Disekolah kembali dipertanyakan oleh Bu guru mengenai cita-cita. Feby bingung dan sekarang malah menjawab menjadi kelinci.
“Hey Sarah nunggu lama,” kata Feby.
“Enggak kok, kita kesana yuk,” kata Sarah.
“Oke, kita naik angkot saja ya, kesana ya,” kata Feby.
“Nanti disana aku mau coba yang jadi model,” kata Sarah.
“Kalau aku macam-macam,” ujar Feby.
Selesainya mencoba permainan.......
“Enggak ada yang cocok,” kata Feby.
“Sabar-sabar nanti juga ada kok,” ujar Sarah.
“Besok ada ulangan bahasa, aku takut kalau disuruh nulis cita-cita lagi,” kata Feby.
“Bilang saja kamu mau jadi dokter atau semacamnya,” kata Sarah.
“Aku enggak bisa bohong,” kata Feby.
Disekolah.......
“Nah untuk meraih cita-cita kaliah harus belajar ya. Feby apa cita-cita mu?” tanya Bu guru.
“Anu cita-cita saya adalah.....,” jawab Feby gugup.
“Santai saja Feby, ayo jawab,” kata Sarah.
“Feby, apa cita-cita mu?” kata Bu guru.
“Saya mau jadi bunga bu!!!” teriak Feby.
“Hahahahaha. Dulu donat sekarang bunga,” tawa Ari.
“Iya hahahahaha, nanti jangan-jangan jadi monyet,” tambah Faisal.
“Sudah anak-anak jangan mengejek Feby terus,” kata Bu guru.
Saat pelajaran mengambar, Feby dan teman-temannya mengambar diluar sekolah. Mereka bebas memilih obyek apapun yang mereka ingin lukis. Akhirnya Feby memilih gambar bunga yang tumbuh di pekarangan sekolah. Sedangkan Sarah memilih mengambar sudut gedung sekolah. Lalu Ari dan Rudy melihat gambar Feby dan mentertawakannya. Juga mengejek soal jawaban Feby saat ditanya mengenai cita-citanya.
“Anak-anak kalian bebas mengambar apapun di lapangan sekolah ya,” kata Bu guru kesenian.
“Sarah kamu mau gambar apa?” ujar Feby.
“Aku gambar sudut gedung sekolah. Kalau Feby?” kata Sarah.
“Aku gambar bunga disekitar sana saja,” kata Feby.
“Kalau begitu berjuang ya,” kata Sarah.
“Iya siapa tau aku bisa jadi pelukis,” kata Feby bersemangat.
Lima menit kemudian........
“Gambar apaan tuh, hahaha jelek amat,” ejek Ari.
“Iya masa bunga gambar bunga aneh banget ya,” kata Rudy.
“Memangnya kenapa kalau aku gambar bunga,” kata Feby marah.
“Kita cuma heran kenapa bunga bisa gambar teman sejenisnya sendiri,” kata Ari.
“Hey Ari, Rudy. Jangan mengejek Feby lagi,” bentak Sarah.
“Wah gawat ada si pemarah, kabur yuk,” ajak Ari.
“Iya deh, ayo,” kata Rudy.
“Jangan dimasuki ke hati ya Feby,” kata Sarah.
“Aku memang enggak becus gambar,” kata Feby.
“Enggak kok gambarmu bagus banget,” puji Sarah.
“Enggak perlu menghibur Sarah, aku mau mengumpulkan ini dulu,” kata Feby sedih sekali.
Dirumah Feby kembali memikirkan apa cita-citanya dimasa depan. Mamanya ikut membantu. Lalu papanya pulang dengan membawa selembarah yang merupakan formulir pendaftaran anggota sangar tari “Ceria,”. Kemudian Feby kembali mengikuti kelas menari. Saat sedang menari Feby terus menerus dipuji oleh bu guru yang mengajar tari. Ketika itu Feby sadar mengapa dia tidak jadi seorang penari?.
“Mama aku belum tau apa nih cita-citanya,” kata Feby.
“Tenang saja kamu pasti akan tau cita-citamu suatu hari nanti,” kata mamanya.
“Papa pulang,” salam papanya Feby.
“Eh papa tumben pulang cepat,” sambut Feby.
“Feby besok kamu ikut sangat tari ‘Ceria’ ya,” kata papanya.
“Sangat tari ceria?!” kata Feby.
“Iya disana kamu bisa latihan menari,” kata papanya.
“Iya deh aku ikut,” kata Feby.
Besok lusanya.........
“Wah hebat sekali gerakanmu indah,” puji guru menari.
“Terima kasih bu,” balas Feby gembira.
“Suatu hari nanti kalau kamu besar, ibu yakin kamu akan menjadi penari terkenal,” kata ibu gurunya.
Dirumah Feby......
“Ma aku sudah tau mau jadi apa,” kata Feby.
“Jadi apa Feby?” tanya mamanya.
“Jadi penari terkenal,” jawab Feby.
“Syukurlah mama dukung cita-citamu,” kata mamanya.
Akhirnya Feby sudah tau mau menjadi apa saat dia sudah besar. Ari dan kawan-kawannya sudah tidak mengejeknya lagi. Di masa depan Feby menjadi penari terkenal. Sarah menjadi guru yang hebat di sebuah sekolah dasar. Dan semua berakhir bahagia. Aku juga berharap bisa menjadi penulis betulan.

No comments: